Showing posts with label international. Show all posts
Showing posts with label international. Show all posts

Friday, January 22, 2016

3 Reasons Why You Should Study in Jogja

I have never regretted for choosing Yogyakarta (commonly called as ‘Jogja’) as the city where I need to live in for these recent two and half years. To be here is so great. Amid the stressful words my friends always tweet from the western part of the island (Jakarta, Bandung, and the surrounding cities) about all the hassles in their life there. Jogja is almost a safe haven.

The narrative would even be more interesting when it actually comes to a college student like me. It’s an open secret that most of college students are living in a budget. In a city with low-average price of food like Jogja, you can’t blame yourself for getting some more kilograms added into your weight very quickly.

This very story is about to tell you why choosing Yogyakarta as your destination city for study would not end up as a regret.

1. There Are Plenty of Choices in The City

Image source: umy.ac.id


The first thing you might put in your consideration must be about the study itself. Seriously, you don’t need to worry about it! Have you heard that Jogja is also often called as “Kota Pelajar”? “Kota Pelajar” means student city. The name is given to the city because Jogja is very populous with students from all around Indonesia, even the world! Of course this is also because Jogja has so many universities to study at. Whether your choice is public or private university, you have plenty of choices in your hand. The faculty and major are also varied, starts from school of engineering, medical, liberal Arts, natural science, and many others, you name it!



     2. Friendly Place for Student’s Budget

Image source: yogyakarta.kemenag.go.id

As I stated in the beginning of the story, compare to other cities that commonly become destination for study, the foods in Jogja are very cheap!  In less than 10.000 Rupiah (less than 1 USD) you can get one solid set of meal (some of them even already include the drink). There are also various foods that you can try in Jogja. You know what my friends from Jakarta and Bandung would always say every time they visit Jogja? “Oh my God! Everything is so cheap in here!! Wonder why the students are looking healthy!"

     3. Cut The Distance for Your Holiday

Image source: yogyes.com


Jogja is also a famous destination for holiday. Every time it comes to holiday, Jogja always gets crowded with many local and international tourists. Besides its traditional culinary, Jogja also has many tourism sites that make almost everyone who comes to Jogja would love to explore. By studying and staying in Jogja, you can cut the distance, time, and budget estimation for your own holiday, especially for a short one. No need to book an airplane ticket to Jogja, simply because you’re already living in that city. And one thing for sure, you will not have to get into too many crowds, because you can come visit them anytime within the regular months like in the weekend which usually not many people from outside of the city would like to spend their time to go out too far.     



It is so much fun to be here! :)



Friday, November 20, 2015

Penipuan Bermodus Peluru Ilegal di NAIA, Calon Penumpang Menjadi Korban

Image Source: qatarday.com

Bandara Internasional Ninoy Aquino (NAIA) sejak beberapa minggu belakangan ini telah menjadi bahan sorotan baik bagi media lokal maupun internasional. Kasus penipuan bermodus kepemilikan peluru ilegal, yang dalam bahasa setempat dikenal dengan istilah “tanim-bala” atau “laglag-bala”, menimpa semakin banyak calon penumpang yang akan berpergian dari bandara yang teletak di Pasay City, Metro Manila tersebut.

Menurut laporan dari situs media Rappler.com, kasus penipuan terhadap calon penumpang tersebut mulai merebak lagi sejak bulan Januari 2015 setelah sebelumnya diketahui sempat menjadi berita media di beberapa tahun kebelakang. Dalam kurun waktu bulan Oktober sampai awal November 2015 tercatat,  tujuh kasus yang sama terjadi pada calon penumpang di NAIA.

Modus penipuan ini berjalan dengan cara diselundupkannya sebutir peluru kedalam tas milik para calon penumpang oleh oknum sesaat sebelum memasuki proses pemeriksaan barang menggunakan sinar x-ray. Penumpang yang “tertangkap” memiliki peluru dalam tas yang dimilikinya, terpaksa harus membayar sejumlah uang sebagai denda jika tidak ingin menghabiskan waktu untuk pemeriksaan lebih lanjut dan resiko kehilangan penerbangan yang telah dipesan sebelumnya.

Korban yang diketahui tidak hanya merupakan calon penumpang yang berkebangsaan Filipina, tercatat beberapa warga negara asing juga terpaksa harus kehilangan penerbangannya setelah sebuah peluru ditemukan dalam tas yang mereka miliki.

Dugaan hingga saat ini, pelaku penipuan adalah sebuah sindikat yang bekerja melibatkan petugas bandara di NAIA. Dikutip dari sumber media lokal inquirer.net, seorang sumber dari Biro Investigasi Nasional Filipina (NBI) yang namanya tidak disebutkan menyebutkan bahwa sindikat ini melibatkan petugas imigrasi, polisi bandara, petugas bagian x-ray, pemeriksa bagasi, dan pengakut barang di bandara tersebut.


Kasus ini telah mendapat tanggapan dari pemerintah Filipina. Menanggapi kasus tersebut, juru bicara kepresidenan Edwin Lacierda menyampaikan bahwa pemerintah setempat sudah mengupayakan langkah-langkah untuk segera menyelesaikan kasus tersebut sekaligus memastikan agar tidak ada lagi calon penumpang yang harus menjadi korban. (IDH)

Sunday, October 11, 2015

Kualitas Informasi dan Kecerdasan Masyarakat

Image source: http://morallowground.com/

Di era yang serba cepat, semua hal seolah dituntut pula untuk mengikuti pola perputaran yang serba cepat. Termasuk dalam urusan penyajian berita di media massa, seiring dengan tingginya permintaan dari masyarakat berkaitan dengan ketersediaan informasi, penyajian berita pun kini seolah lebih mementingkan siapa yang mampun muncul lebih awal dibandingkan dengan siapa yang mampu menyediakan berita yang informasinya akurat.

Tercatat bahwa beberapa kasus ketidakakuratan penyampaian berita sempat terjadi baik di dalam maupun luar negeri. Seperti contoh pada kasus ledakan bom di kota Boston, A.S 2 tahun silam, banyak media yang disinyalir terlalu spekulatif dalam menyajikan berita pada masyakarat. Padahal sebenarnya keakuratan data yang disajikan belum bisa dipastikan (baca selengkapnya disini).  

Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, selain tingginya permintaan dari masyarakat yang membuat lalu lintas berita menjadi sangat cepat seperti yang sudah disebutkan diatas, hal yang tidak bisa dipungkiri adalah sisi komersial dari pemberitaan itu sendiri yang menyebabkan munculnya tendensi untuk terus menyajikan berita tanpa terlalu mempedulikan kualitas berita tersebut.

Moneter.co, salah satu portal berita ekonomi di Indonesia melaporkan bahwa, berdasarkan data dari Asosiasi Surat Kabar dan Percetakan Dunia (World Association of News Paper and News Publisher) pendapatan secara global dari bisnis surat kabar tahun lalu bisa mencapai angka 200 miliar dollar A.S (baca selengkapnya disini). Hal ini tentunya belum termasuk dengan pendapatan dari perkembangan media online yang semakin hari semakin popular.

Karena tingginya lalu lintas dan besarnya peluang keuntungan yang bisa dihasilkan dari bisnis tersebut, kini bahkan beberapa perusahaan media seperti Los Angeles Times telah menggunakan instrumen robot yang dibuat oleh system alogaritma tertentu. Robot ini mampu secara otomatis menuliskan sebuah berita lengkap beberapa saat setelah suatu kejadian berlangsung (baca selengkapnya disini).

Perubahan tingkat lalu lintas informasi yang menjadi serba cepat tidak seharusnya selalu kita pandang secara negatif. Sebagai masyarakat pada umumnya, seharunya fenomena ini menjadi titik dimana kita terpacu untuk menjadi lebih kritis dan sadar terhadap kualitas informasi yang kita terima. Banyaknya ketersediaan informasi di media massa seperti sekarang secara tidak langsung memberikan kita ruang untuk bisa membandingkan dan menilai keakuratan informasi yang disajiikan. Sistem demokrasi yang mengizinkan kebebasan persebaran ide dan informasi di masyarakat, seharusnya mampu membuat kita untuk menjadi lebih cerdas, tidak sebaliknya.